Siapa kita?

Bahasa kita kadang jiwa, kadang rasa, kadang kata, kadang hati, kadang emosi, kadang tak terkata..

My Thought...

Friday, August 26, 2011

Setelah sekian lama akhirnya impian saya untuk kembali ke bangku pendidikan terwujud. Saya mengambil Filsafat, dan tolong jangan tanyakan kenapa saya ambil filsafat karena jawaban pasti anda bisa temukan jika membaca artikel saya dari awal (disini maupun di Herlounge).

Saya mengambil Filsafat di STF Driyarkara, pribadi karena saya melihat disana saya bisa berkembang secara maksimal. Sebuah tempat belajar yang 95%-nya adalah calon iman dan perempuan nya seperti mempunyai kamar mandi pribadi karena jumlahnya yg sedikit =D.

Ada hal yang menarik perhatian saya dari awal saya masuk disini, yaitu TIDAK ADA KANTIN! dan ini akhirnya saya ambil hikmahnya untuk DIET saya yang hingga sekarang ini masih dalam kotak impian.


Hal lainnya yang menarik adalah pakiran kampus yang sangat ramah dengan sepeda, karena kebanyakan para Frater (calon imam) mengendarai sepeda atau nge-pit dalam bahasa mereka. Anda jangan membayangkan sepeda para alay atau fixie, tapi sepeda ontel.. ooowwhhh betapa saya selalu jatuh cinta pada benda antik, jadilah saya sangat menikmati pemandangan ini. Ditambah dengan taman didalam gedung yang menyelingi ruang kelas.


Sekarang kita mulai dengan konsep baru, warna biru dengan burung, sama sekali tidak berpikir untuk seperti Tw***r =D. Konsep memilih warna biru karena ingin memberikan kesan Segar dan gambar burung karena ini tempat saya berceloteh macam-macam (kadang romantis,kadang nyiyir, kadang galau, kadang kesal, kadang bawel, dan kebanyakan ga jelas).

Jadi.. Mari kita mulai berkelana dalam dunia Vien.

Ini adalah pidato dari cuplikan film "The Great Dictator" (1940) yang diperankan oleh Charlie Chaplin sebagai Adenoid Hynkel, seorang diktator dari Tomania. Bagi saya pribadi ini merupakan salah satu pidato yang sangat menginspirasi dan bagaimana seharusnya pola pikir seorang pemimpin Bangsa Indonesia.




I'm sorry, but I don't want to be an Emperor - that's not my business. I don't want to rule or conquer anyone. I should like to help everyone, if possible -- Jew, gentile, black man, white. We all want to help one another; human beings are like that. We want to live by each other's happiness, not by each other's misery. We don't want to hate and despise one another. In this world there's room for everyone and the good earth is rich and can provide for everyone.

The way of life can be free and beautiful.

But we have lost the way.

Greed has poisoned men's souls, has barricaded the world with hate, has goose-stepped us into misery and bloodshed. We have developed speed but we have shut ourselves in. Machinery that gives abundance has left us in want. Our knowledge has made us cynical, our cleverness hard and unkind. We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity. More than cleverness, we need kindness and gentleness. Without these qualities, life will be violent and all will be lost.

Well.. saya rasa sudah saatnya memberikan nuansa baru untuk blog ini.. ^^

karena saya sudah kembali ke bangku sekolah dan menurut saya, lebih baik membagikan juga seluruh saya seutuhnya, tidak hanya sebagian dari "isi" saya. Jadi untuk selanjutnya jangan heran ya kalo akan banyak saya saya masukkan makalah-makalah saya ke blog ini.

Begitu banyak dari saya yang ingin saya bagikan..

Enjoy the world of Vien's!

Sunday, January 2, 2011

Saya sangat sedih melihat teman teman Lesbian yang menjauh dari Tuhan, karena tidak bisa melihat kalau Tuhan berbeda dengan agama. Agama tidak pernah akan bisa menjadi Tuhan, dan Tuhan pun terlalu besar untuk di jadikan Agama..

Tak bisa kan kau lihat teman? Tuhan tidak butuh pengakuan dari kita untuk menunjukan keberadaanNya, hanya agama yang butuh pengakuan.

Bukan Tuhan yang akan mempermasalakan mu karena mencintai seorang wanita.. tapi hanya seorang "tokoh" agama yang mempermasalahkannya, dengan meng atas namakan Tuhan. Padahal Tuhan sendiri tak perlu untuk di atas-nama-kan oleh apapun dan siapapun.

Thursday, December 23, 2010

GOD

God, by definition , surpasses us. Religion do not, they are human -all too human, some would say and, as such, accesible to our understanding.

God, is transcedent. ReligionS are part of history, society, the world (they are immanent).

God is reputed to be perfect. NO Religion can ever be so.

The existence of God is open to Question. The existence of Religions is not!

Friday, December 3, 2010

Lagi lagi hujan dengan angin dingin menerpa kehadapan. Sekejab menyeret pergi semua keriaan kota, lalu di gantikan kekelaman yang kejam. Kemana perginya keramahan dan kesenangan hidup? Entahlah, barangkali ia bersembunyi di bawah atap atap kemapanan dan enggan berada di jalanan. Barangkali ia seperti debu debu jalan yang tersapu oleh derasnya hujan. Barangkali ia sudah masa bodoh dengan harapan-harapan yang dititipkan pada tetes tetes air yang jatuh menghujam tanah.

“Ah, mengapa pula Jakarta harus hujan malam ini? Jemu dan menyebalkan!”
Dia pun menggerutu, tak terlalu lama, karena ia pikir akan percuma. Bukankah demikian adanya : kehidupan memang menjemukan. Siapa bilang ia penuh kejutan? Itu cuma bisa bisanya Seno Gumira Ajidarma dengan cerita cintanya.

Baginya, semua selalu berakhir sama : ketidakpastian yang berujung pada tragedy. Kita boleh punya rencana, punya cita cita, dan berusaha untuk mencapainya, tetapi hidup tak berjalan seperti kemauan kita. Kita tak pernah tau kemana hidup membawa kita pergi. Barangkali kita tidak akan pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita akan mencapai tujuan kita, tetapi dengan cara yang tidak terduga. Siapa yang tahu, siapa yang menyangka karena realita tak mudah dicerna. Karena faktanya, ia yang semula hendak pergi keliling kota, kini cuma bisa menatapi jendela.

“Hidup tak lagi ramah,” pikirnya.

 
Copyright (c) 2010 Vien's. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.